Malaria ga pake “a”

January 16, 2010 at 12:17 am Leave a comment

Hari ini hujan deras, disertai angin yang cukup kencang. Mbak Tumini dan Kang Tukijo baru saja pulang dari sawah, mampir ke cakruk karena dalam posisi kehujanan. Sampai-sampai mereka terlibat dalam suatu obrolan ngalor-ngidul (kesana kemari ga jelas). Entah itu ngomongin harga pangan yang semakin naiklah, hasil panen yang merosotlah, dan mapir pada suatu topik,. Kemarin sore, Mbak Tumini nonton televisi, yang isinya tentang Malari. Dia itu ga dong apa itu Malari akhirnya tanyalah mbak Tumini kepada Kang Tukijo, yang saat itu sedang ada disampingnya sambil menunggu hujan reda. Nah begini nich alur mbak Tumini tanya ke mas tukijonya.

maklum orang jawa, makanya tanya-nya pun pake bahasa jawa.

Kang Tukijo, Malari Kui opo to?“, Tanya mbak Tumini ( kang tukijo, malari itu apa?)

Malari  kui seko singkatan Malapetaka Lima Belas Januari, Tum“, Tegas kang Tukijo ( malari itu dari singkatan………)

maksudte opo kang kui?“, Tumini tanya lagi. (Maksudnya apa kang itu?)

“Jadi ngene tum, tak ceriktakke, neng nganggo bahasa indonesia wae yo?, lha aku rodo ewuh je, nyeritakke nganggo bahasa jawa“, jawab kang tukijo (jadi begini Tum, aku ceritain, tapi pake bahasa indonesia aja ya?, agak blibet sich kalo harus nyeritain pake bahasa jawa)

iyo kang“, tegas Tumini (iya Kang)

Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 januari 1974 . Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka kakuei sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Grahake pangkalan udara.

Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto memberhentikanSoemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan oleh Yoga Sugama“. Cerita kang Tukijo

Lha kok disebut malapetaka?”, tanya Tumini

iya, karena pada saat itu terjadi demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan. Malapetaka yang membuat belasan orang tewas, ratusan terluka“, Jawab kang Tukijo.

tak Teruske yo tum“, tanya kang tukijo

yo”, jawab mbak Tumini

Jakarta, 15 Januari 1974, adalah hari dimana kebebasan mengemukakan pendapat dibalas dengan pembungkaman yang disertai kekerasan oleh sang penguasa negeri ini waktu itu. Kerusuhan pun merembet ke pengrusakan sarana umum dan penjarahan. Buntut dari kejadian itu adalah ditangkapnya beberapa tokoh dan aktifis mahasiswa yang diduga ikut bertanggung jawab terjadap kejadian Malari. Sejumlah surat kabar juga diberangus. Pemegang jabatan strategis militer pada saat itu juga diganti” Lanjut kang Tukijo.

Trus, sek salah sopo?“, Tanya Mbak Tumini (Trus yang salah siapa?)

Dalam peristiwa Malari Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali MoertopoCSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari sendiri dengan ” jawab Kang Tukijo.

“oalah dadi ngono to”, sahut Tumini (yaelah, jadi gitu)

setelah itu, ujanpun reda, kang Tukijo dan Mbak Tuminipun melanjutkan perjalanan pulang.

Untuk lebih jelasnya, bisa kunjungi

Dendemang

Soerdjak

Entry filed under: Uncategorized. Tags: , , .

“Cin(t)a” damai? Kisah Sel Tikus dan Tarif Kamar di Penjara (okezone.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ngalor Ngidul Ora Jebul

Selamat datang di blog Obrolan Cakruk

Mampir Ngombe

chat

Recent Posts

Lomba Blog UII

RSS detiknews

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.